Senin, 19 Desember 2011

6 Days in Jogja #Day4






Whoa.... sungguh post yang jauh tertunda. Hehehehe.
Kemarin-kemarin di laundry lagi hectic banget, dan ada sedikit masalah sama kesehatan.
Sebelum lupa, mau lanjutin cerita Jogja Trip, aaah...
Day 4...!!!!

Setelah gagal masuk ke Museum Budaya Jawa Ullen Sentalu di hari sebelumnya, maka hari ke-4 di Jogja ini bener-bener diniatin untuk pergi kesana. Pagi-pagi cuaca cerah, aku sama Subhan bangun lumayan pagi, walaupun kecapekan karena kemarennya ngerasa pegel-pegel dan kaki pada sakit. Setelah berkali-kali diguyur pake air panas dari shower, akhirnya kaki bisa dipake buat jalan-jalan lagi. hehehehe.

Seperti biasa, pagi-pagi kami selalu kelaperan. Abis mandi, dandan, langsung cabut. Subhan inget satu tempat Soto Lamongan yang suka dia datengin dulu. Letaknya ngga jauh, ternyata dari d'Paragon Cempaka Putih. Cuma tinggal masuk-masuk dikit ke area perumahannya, nyampe deh di kedai soto yang berbentuk rumah besar itu. Langsung pesen soto ayam, isinya suwiran-suwiran ayam dan sayuran, makannya pake nasi dan tempe mendoan, dilengkapi es jeruk. Enyak banget. Pantesan tempatnya rame. Pelayanannya juga baik dan cepet. Makan berdua habis sekitar 25 ribu.

Selesai makan, kami langsung cuss ke Kaliurang atas lagi, menuju Ullen Sentalu. Perjalanan kali ini terasa lebih cepet karena udah tau jalan, ga pake pusing-pusing lagi, hehehe. Sekitar jam 9.30 kami nyampe di Ullen Sentalu. Sepi banget, ngga ada kendaraan lain. Sempet kuatir sih, jangan-jangan harus nunggu banyak pengunjung untuk bisa ikut tur. Tapi ternyata setelah bayar tiket, masing-masing 25 ribu, kami nunggu sebentar lalu dijemput seorang guide cewek yang masih muda, keliatannya anak kuliahan, namanya Fafa.

Jadinya kami tour berdua aja, bertiga sama si guide, hehehe. Aturan tour ternyata cukup ketat, yaitu ngga boleh memotret isi museum, berarti kamera dikekepin aja di tas. Ngga boleh nyalain hp, dan ngga boleh memegang barang-barang yang dipajang di dalamnya. Tulisan "No Smoking", "No Taking Pictures", dan "Don't Touch!" menghiasi dinding-dindingnya.

Pertama, kami diajak ke Guwo Selo Giri, yaitu lorong gua yang cukup lapang, dengan ruangan-ruangan lapang di dalamnya. Terdapat replika gamelan Keraton Yogyakarta dan beberapa pajangan gerabah serta kuningan. Ada pula lukisan-lukisan cantik yang menggambarkan potret putri-putri cantik dari Keraton Solo dan Yogyakarta, Sultan-sultan yang pernah berkuasa, dan sebagainya. Setiap benda dan lukisan di sana memiliki kisah-kisah unik menarik sebagai latar belakang. Misalnya ada salah satu lukisan yang menceritakan tentang persaingan di antara dua orang putri dalam memperebutkan seorang pangeran.

Guwo Selo Giri ini lumayan panjang..., setelah dari ruang gamelan, kami menyusuri lorong yang dihiasi lukisan-lukisan, potret, family tree, dan beberapa tulisan atau maklumat dari tokoh-tokoh Keraton Solo dan Yogyakarta. Guide kami dengan lancar menjelaskan siapa saja yang tergambar dalam lukisan atau potret, bagaimana peranannya dalam politik, ekonomi, dan budaya di masa lalu atau sekarang. Diungkap pula beberapa intrik percintaan di antara anggota-anggota keluarga dua keraton tersebut. Baik yang berujung di pelaminan maupun tidak.

Di ujung lorong gua, kami menaiki tangga dan kembali melihat sinar matahari. Kami diajak menyusuri halaman kembali, menuju Bale Kambang, yaitu "kampung" kecil yang dibangun di atas kolam, sehingga menjadi bangunan yang mengambang. Bale Kambang terdiri atas beberapa ruangan yang memajang koleksi batik-batik kuno nan cantik, dengan motif-motif langka yang hanya bisa dipakai oleh kaum priyayi. Ada pula ruangan yang memajang pakaian pengantin khas Keraton Yogyakarta dan Keraton Solo.

Bagi saya yang gemar menikmati lukisan-lukisan potret kaum priyayi jawa ini, masih ada ruangan-ruangan yang memajangnya, juga surat-surat yang dikirimkan oleh kerabat-kerabat keraton bagi seorang putri bernama Gusti Tineke yang patah hati. Istimewa banget. Ditambah sebuah ruangan yang khusus dipersembahkan untuk seorang Putri Dambaan yang cantik dari Keraton Solo, bernama Gusti Nurul.

Tampak dari foto-foto dan lukisannya, beliau ini ayu dan cantik sekali. Konon pada masa mudanya, beliau mendapat lamaran dari orang-orang penting dan berkuasa, termasuk Presiden Soekarno. Tapi prinsip beliau yang menentang poligami membuatnya memilih calon suami dengan amat teliti. Akhirnya Gusti Nurul menikahi seorang tentara yang berdarah ningrat pula, tetapi golongannya lebih rendah dari beliau. Gusti Nurul ini ternyata neneknya penyanyi Shelomita itu lho.

Tamat mengelilingi Bale Kambang, kami diajak keluar dan kembali menyusuri taman menuju Pelataran Kaswargan. Di sana kami diajak melihat lukisan-lukisan nan megah lagi, beberapa patung Ganesha dan Dewi Sri, serta terus disuguhi cerita-cerita yang menarik dan berkelanjutan. Di akhir tour, kami dibawa ke ruangan semacam pendopo kecil yang dipenuhi furnitur antik dengan jendela-jendela kaca lebar. Ada dua gelas minuman tradisional hangat menanti kami. Konon minuman itu adalah resep awet muda putri-putri keraton. Rasanya mirip jamu beras kencur. Manis dan menghangatkan badan, terlebih saat itu hujan deras tiba-tiba turun.

Sambil menunggu hujan reda, kami duduk-duduk di pendopo tersebut. Pengen rasanya hujan cepet berhenti, karena aku dan Subhan udah gatel banget pengen foto-foto di taman museum ini yang cantik. Kalo setelah tour memang boleh foto-foto di taman. Untungnya, sekitar jam 11, hujan reda. Aku dan Subhan langsung gantian memotret sana-sini. Meskipun agak sulit karena cahaya kurang, langit masih mendung. Sejam kemudian kami naik ke bangunan model Belanda yang juga ada di kawasan museum tersebut. Namanya The Beukenhof. Beuh, interiornya cantik, secantik foto-fotonya. Berasa lagi berkunjung ke rumah seorang Noni di jaman kolonial Belanda, hehehehe.

Kami milih meja dekat jendela, karena ngga bisa duduk di balcony yang menghadap ke Taman Kaswargan, karena baru habis hujan. Balkonnya basah bo! Waiter yang melayani ngasih 2 buku menu. Cantik deh menunya, sayang lupa difoto. Aku makan Chicken Cordonbleu sama Orange Juice, Subhan pesan Sirloin Steak sama Orange Squash. Sekitar setengah jam nunggu, makanan kita dateng. Langsung dicicip dong... dan Enak deh!! Tadinya mau pesan menu-menu khas Belanda tapi lagi ngga mood. hehehehe.

Kami makan sambil santai, tapi emang cepet abisnya, setengah jam aja kelar. Habis itu bingung mau ngapain. Tapi ya udah akhirnya minta bon, bayar sekitar 170 ribuan, lalu jalan-jalan lagi di taman. Setelah itu keluar, masuk mobil, dan sempet keliling-keliling Kaliurang nan dingin. Ga lama kita udah menuruni Kaliurang kembali ke Jogja. Nyampe Jogja kita lanjutin ngapalin jalan lagi, hahahaha, terus di Jalan Colombo mampir beli singkong goreng keju. Muter-muter lagi sambil ngemil, lalu Subhan punya ide pengen pijet. Tadi di Kaliurang km5 ngeliat tempat pijit Refleksi namanya Kaki Kita. Balik lagi kita ke arah Kaliurang bawah, alhamdulillah pijetnya ngga ngantri. Berdua dipijet sebelahan, sekitar sejam. Lumayan enak sih, meskipun ngga enak banget.

Kelar pijet kita sempet pulang dulu ke Paragon. Mandi, sholat maghrib, ganti baju, abis itu langsung ngacir lagi ngejemput Mbak Icha, temen kuliahku di Bandung, untuk makan malem bareng. Rencananya kita mau makan ke Cak Koting. Setelah jemput Icha di rumah neneknya di daerah Sapen, meluncur ke Cak Koting. Gila ya, tendanya gedeeeee banget, yang makan pun banyak banget. Aku pesan ayam kremes, Subhan bebek kremes, dan Icha lele goreng. Minumnya es jeruk teruuuuuss...hihihi.

Pas makanan kita dateng, aku terpesona sama potongan ayam dan bebeknya yang gedddeee, dikasih kremesan banyak. Enak ya makan Cak Koting..... Pengen lagi deeeh. Makannya sambil nonton aksi pantomim yang menarik, kebetulan pantomimnya lagi ngamen di sana sebagai latihan untuk ikut lomba katanya.

Meski kekenyangan abis makan besar, hasrat untuk nongkrong masih aja ada. Dan masih kangen sama Icha, masa harus cepet udahan siiih.... :p
Maka, lanjut deh kami naik ke Kaliurang lagi ke Yogya Food Fezt di Km5. Dia tuh semacam foodcourt yang di-set lebih cozy dengan lampu-lampu temaram. Waitressnya canggih lho, nyatet pesenannya pake touch-screen phone. Kita bertiga ngemil es krim pake waffel sambil rumpi-rumpi. Well, yang rumpi sih aku ma Icha, Subhan asik aja ngelamun sambil ngoprek BB. :))

Sampe jam 10.30-an kita disana, agak capek juga. Pas waitress udah "ngusir" secara halus dengan ngasih tau jam last order, kami pun melipir ke pintu keluar, hahahaha. Setelah nganter Icha pulang, ga pake babibu kami cabcuss ke Paragon dan tiduuuurrr....

Jumat, 25 November 2011

6 Days in Jogja #Day3






Day 3

Meski ga suka makanan (utama) yang manis, ga tau kenapa, di hari ketiga di Jogja ini kepengen banget sarapan gudeg. Sebelumnya udah disaranin sama beberapa temen, kalo gudeg yang paling enak itu Gudeg Yu Djum. Selidik punya selidik, ternyata Yu Djum ini banyak cabangnya. Mulai di daerah Kaliurang bawah (di dalam gang), di Wijilan, sampe Jalan Laksda Adisucipto yang menuju Solo. Sejak bangun, Subhan udah cranky, yang berarti…….?? Beliau laper berats. Kebetulan di kamar udah ngga ada cemilan. Jadi dia bener-bener nyuruh aku cepet mandi dan siap pergi. Karena agenda kita padat juga sih, ngga pengen kesiangan kayak acara ke Borobudur kemaren.
Sekitar jam 7 pagi lebih dikit kita udah keluar dari d’Paragon dan mulai mencari keberadaan Gudeg Yu Djum yang di daerah Kaliurang bawah itu. Agak lama juga muter-muter dan melototin setiap gang yang ada, nyari-nyari papan penunjuk atau apalah. Suami makin cranky, yang mana agak lucu juga buat aku, hahahahaha. Akhirnya ketemu juga gang-nya. Bisa dimasukin sama mobil, kok, tapi hati-hati kalo berpapasan sama mobil lain ngga akan muat. Warung gudegnya ada paling ujung sampe mentok. Di sana surprisingly lahan parkirnya gede juga. Warungnya sih sederhana banget, tapi terlihat sibuk. Pegawainya banyak, dan di belakang tampak dapur besar yang sibuk dipake memasak. Sepertinya ini tuh rumah aslinya Yu Djum, deh. Soalnya rumahnya tua, tradisional, dan banyak foto-fotonya.
Aku pesan gudeg ayam suwir, telor, dan lain-lain. Subhan juga sama. Minumnya teh anget. Btw, teh-nya enak banget lho… wangi gitu. Subhan dikasih nasi-nya banyaaaaaaak banget. Hahahahaha. Pas kita mulai makan, mulai deh banyak pengunjung lain berdatangan untuk sarapan juga. Parkirannya tiba-tiba penuh. Gudegnya enak, meskipun manis (ya iyalah menurut loooo?). Aku makannya sambil meringis-meringis kemanisan…hihihihi. Selesai makan kita langsung bayar, Cuma 26 ribu aja loh berdua. Trus langsung cabcus berangkat ke Candi Prambanan dan Keraton Ratu Boko…
Candi Prambanan itu letaknya di arah ke Kota Solo, tepatnya di Klaten. Perjalanan kesana lumayan jauh juga sih, sekitar 1 jam. Sebenernya suamiku ngga tau dimana lokasi Keraton Ratu Boko, aku juga ngga. Tapi ngebet banget pengen kesana. Dulu waktu kecil lihat artikel tentang reruntuhan kuno itu di Majalah Bobo, terus beberapa taun terakhir ini terpesona sama gambar-gambarnya yang aku liat di brosur atau website pariwisata. Rencananya setelah dari Prambanan mau cari-cari jalan ke Ratu Boko dengan cara bertanya, hehehe. Hari itu udaranya sejuk, agak dingin. Dan begitu tiba di areal parkir Candi Prambanan, hujan aja dong…. Tapi gerimis doang. Sambil nunggu hujan, Subhan ke kamar mandi dulu, mau pup. Tadi pagi ga sempet pup karena laper rupanya :p.
Sekitar 15 menit kemudian, hujan reda. Kita langsung menuju loket untuk beli tiket. Surprise banget ternyata di sana ada keterangan paket tur ke Keraton Ratu Boko, dianter pake shuttle. Tarifnya Cuma 30 ribu per orang, sudah termasuk tiket masuk kompleks Candi Prambanan juga. Sikat deh, terus ditunjukin jalan ke mobil shuttle yang udah menanti. Bersama beberapa pengunjung lain, kita berangkat ke Ratu Boko. Untung banget ada layanan ini, karena ternyata jalan ke Desa Boko itu agak jauh juga dari Prambanan dan masuk ke dalam desa, mendaki bukit, dan jalannya sempiiiiitt banget. Supir harus hati-hati nyetirnya, terutama di tanjakan yang menikung biar ga kecelakaaan saat ketemu dengan kendaraan lain.
Perjalanan ke sana makan waktu 15 menit, pake ngebut, hehehe. Begitu turun dari mobil, kita langsung merasakan suasana yang sejuk. Ga pake menunda, aku dan Subhan langsung menyusuri jalan yang agak menanjak menuju reruntuhan kuno yang dulunya berupa keraton yang didirikan oleh Rakai Panangkaran itu. Kompleks Keraton kuno ini lumayan luas, berada di puncak bukit yang dikelilingi hutan dan tebing-tebing batu. Di perjalanan menuju keraton, kita bisa melihat pemandangan kota Klaten terhampar di bawah, juga Candi Prambanan yang megah di kejauhan. Semakin mendekati tangga dan gerbang keraton, aku merasa terbawa ke suasana yang berbeda. bayangin aja ada hamparan rumput tipis hijau dan di atasnya berdiri sisa keraton kuno dengan batu-batuan yang sudah berusia ribuan taun.
Ada juga perasaan kalo highland ini mirip dengan kastil-kastil kuno di Skotlandia (macem pernah kesana aja) yang biasa kita liat di tv atau majalah. Kereeeeeen…. Banget!!! Reruntuhannya aja megah, apalagi aslinya dulu ya. Ngga kebayang indahnya. Setelah melewati gerbang dan benteng, terhampar lahan luas dengan reruntuhan batu di sana sini yang menandakan tempat itu awalnya adalah bangunan. Mulai dari tempat menerima tamu, bangsal keputren, pemandian, dan sebagainya. Sampai ke belakang dan menurun, kita masih bisa melihat reruntuhan lain menyerupai labirin di kejauhan. Pas mau kesana, sayangnya, giliran aku yang harus ke kamar mandi. Mendesak banget. Nyari-nyari kamar mandi deket situ tapi ngga ada. Agak ke depan ada dua, tapi ngga bisa dipake karena rusak. Berarti terpaksa harus pake toilet yang di depan dekat parkiran. Oh, maaan… padahal belum puas keliling dan foto-fotonya.
Setelah ke kamar mandi menuntaskan hajat, aku liat-liat ternyata disana ada café yang bagus lho. Sayang lupa tanya bukanya sampe jam berapa. Mau makan disana, belum waktunya makan siang. Lagian kita masih harus balik ke Prambanan, kan? Akhirnya Cuma numpang foto-foto di area indoor-nya yang ciamik dan menyuguhkan pemandangan indah. Ngga lama kemudian mobil shuttle siap berangkat dan mengantar kembali ke kompleks Candi Prambanan.
Tiba di Prambanan, udara masih sejuk, matahari ngumpet di balik awan. Syukurlah, jadi kita ngga akan gosong lagi kayak di Borobudur…hihihi. Ngga seperti Borobudur, Candi Prambanan yang terdiri atas kumpulan beberapa Candi dalam formasi persegi ini letaknya ngga di atas bukit. Kita hanya perlu naik beberapa anak tangga dan sudah langsung bisa melihat-lihat satu demi satu bangunan candi yang merupakan tempat pemujaan untuk dewa-dewa Hindu.
Candi terbesar di sana dipersembahkan untuk Dewa Syiwa. Sayangnya, candi tersebut sedang ditutup untuk pengunjung karena sedang diperbaiki. Kondisi di sekitar candi berpasir, ngga tau kenapa, padahal tanah di pelatarannya padat. Waktu itu disana lagi ada rombongan anak-anak SMA sedang study tour, jadi agak rame. Ada juga beberapa orang yang keliatannya mahasiswa seni atau desain, mereka duduk di tempat-tempat teduh sambil menggambar candi-candi.
Aku dan Subhan masuk ke dalam satu candi. Di ujung gerbang tangga terdapat sebuah ruangan kecil dengan patung sapi di dalamnya. Kita ngga masuk kesana, tapi keliling “balkon” candinya aja, sambil cari tempat yang enak buat foto. Disini kita berdua dapet beberapa foto berdua yang bagus, dan aku juga seneng banget bisa ngambil foto Subhan yang bagus-bagus karena cahaya mendukung banget *nyengir*.
Puas menikmati suasana di Candi Prambanan, aku sama Subhan turun ke pelataran dan jalan-jalan sebentar di sana. Ngga bisa dibantah, deh, kompleks ini memang lebih adem dan lebih tentram. Ditambah dengan bunyi-bunyi gamelan yang diperdengarkan melalui speaker-speaker di beberapa sudut. Betah lho aku, sampe pengen nyewa sepeda untuk keliling. Tapi berhubung masih ada jadwal ke Museum Budaya Jawa Ullen Sentalu di Kaliurang Atas, akhirnya kita bergegas keluar dan mengarahkan mobil kembali ke Jogja.
Sepanjang jalan ke Jogja, hujan gerimis senantiasa menemani, bikin ngantuk tuk tuk…hehehehe. Pas ngeliat jam, aduh, kok udah jam 1 aja? Aku kuatir kesorean karena Ullen Sentalu tutupnya jam 4 sore. Ntar ngga puas dong disana. Selain ikut tur, aku berencana menikmati waktu sebentar di tamannya yang indah (tau dari website) dan pengen makan siang menuju sore di The Beukenhof Resto-nya. Udah ngebayangin aja asiknya ber-Jawa-jawa ria trus ditutup dengan makan yang enak di restoran Belanda yang bangunannya Belanda banget. Aduh, maaf ini kok bahasaku belepotan :p.
Baru aja nyampe Kaliurang km 10-an, jam udah menunjukkan hampir angka 2. Perut udah keruyukan, karena di luar mobil udah bukan gerimis lagi, melainkan hujan deras banget. Pas ngeliat papan nama Mie Bakso Mister Blangkon segede-gede gaban, aku sama Subhan liat-liatan…hahaha, sama-sama pengen makan yang anget. Telepati langsung berbuah masuk ke parkirannya. Eh buset, penuh loooh, sampe hampir ngga dapet parkir. Mas-mas waiternya baik banget ngejemput kita dari mobil pake payung. Begitu masuk ke dalam, tempatnya asik juga. Jadi dia itu ternyata restoran keluarga, ngga hanya jual bakso tapi juga masakan Jawa, Sunda, Chinese dan Seafood. Interiornya mirip banget sama Rumah Makan Ampera yang di deket Masjid Istiqomah Bandung.
Aku pesan bakso urat kuah, pangsit goreng isi, minumnya iced lemon tea. Subhan pesen kwetiau goreng, minumnya lemon tea panas. Setelah nunggu 10 menit, makanan kita dateng, dan langsung kita hajar. Sambil makan kita ngeliat terus keluar sambil cemas, karena hujan malah makin deras dan ngga menunjukkan tanda-tanda mau mereda. Agak lama juga kita di Mister Blangkon, tapi akhirnya buru-buru pergi karena kuatir kesorean. Oya, makanan di Mister Blangkon ini lumayan enak. Tapi, hanya lumayan aja. Abis sekitar 60 ribu.
Kita kembali naik ke Kaliurang Atas, karena menurut petunjuk, Ullen Sentalu ini berada di kilometer 20 sekian, setelah Gerbang Wisata Kaliurang. Di gerbang itu bayar 12 ribu. Sebenernya ada trik untuk ngelewatin gerbang secara gratis. Bilang aja nginep di Hotel Graha Persada atau lainnya di daerah situ. Lanjut lagi kita naik ke atas, udara makin dingiiiiiiinnn…. Setelah nemu patung udang, belok ke kiri, lalu ke kanan lagi, ke Jalan Wara. Dari sana ikutin terus jalan ke atas, lalu di depan sebuah wisma (entah apa namanya, lupa) terlihat papan penanda Museum Ullen Sentalu sekaligus informasi tentang souvenir shop dan restonya. Belok kiri sedikit, dan voila, nyampelah kitaaaa….
Kesan pertamaku adalah kagum, karena bagian luar Ullen Sentalu mirip benteng tua yang tertutup tanaman rambat dan tersembunyi di balik pepohonan. Tapi Subhan sih agak pesimis…hahaha, maklum, dia belum pernah baca-baca soal museum itu sebelumnya. Terlihat di sebelah kiri ada jendela yang berfungsi sebagai loket. Begitu didekati, ada seorang bapak tua berpakaian rapi yang jaga. Aku menyapa dia, lalu minta tiket untuk dua orang. Eh, ternyata jawabannya mengecewakan. Akibat hujan deras, Ullen Sentalu mati lampu dan tidak bisa menyelenggarakan tur. Karena di dalam tuh ruangan-ruangannya gelap dan membutuhkan penerangan, begitu kata si bapak.
Aduh, aku merasa agak patah hati, tapi mau gimana lagi. Rain check deh jadi besok pagi aja. Setelah minta brosur, kita berangkat lagi ke bawah dan menuruni Kaliurang sambil ngelamun. Hihihihi. Tapi sempet juga sih liat-liat daerah vila-vila di Kaliurang yang cantik. Lucu juga kalo kapan-kapan nginep di daerah sini.
Pas nyampe Jogja kota, Subhan ngajak jalan-jalan lagi biar aku ngga terlalu bête. Udah buru-buru dari Prambanan ke Kaliurang yang lumayan jauh, eh ngga bisa masuk Ullen Sentalu. Aku diajak ke Jalan Sagan dan masuk Galleria Mall. Di dalem puter-puter keluar masuk toko, liat-liat sepatu, terus Subhan beli celana selutut warna abu. Abis itu kita ngemil di Wendy’s… yaaay!! Udah lama banget ngga makan Wendy’s.
Kenyang ngemil burger dan French fries, kita keluar dari Galleria. Kebetulan banget dapet sms dari pemilik toko bedding supply Kazu, katanya pesanan kita selesai lebih cepet dan udah bisa diambil. Alhamdulillah kainnya sesuai dan bikinannya bagus. Bayar 400 ribu (hiks) lalu kembali kita jalan menuju InteeShirt, lupa jalannya di mana. InteeShirt tuh distro asli Jogja, langganan suamiku beli baju waktu dia kuliah dulu. Disana liat-liat tapi kok barangnya jelek-jelek. Aku ga naksir apa-apa, Subhan juga sama. Dia agak kecewa karena ternyata desainnya berubah katanya.
Aku kan dari kemaren-kemarennya udah merengek sama Subhan, pengen Bakpia Kurnia Sari yang lagi heiiitttzz banget dan terkenal. Konon enyaknya ngalahin semua bakpia Jogja. Sialnya, si Kurnia Sari ini ngga jualan dimana-mana lagi kecuali tokonya sendiri di daerah Glagah Sari. Subhan ga hapal daerah itu dan agak jauh. Sambil manyun aku browsing-browsing, nemu lah info bahwa ada toko keduanya di Ruko Pogung Permai di Ring Road Utara deket Kaliurang bawah. Kembali lagi kita ke daerah Kaliurang dan nyari-nyari Ruko Pogung. Sempet kebingungan tapi akhirnya ketemu. Beli sekotak Bakpia Keju buat percobaan, harganya 23ribu. Pas dimakan…. Oh my God, memang enyak banget. Ini lebih lembut, lebih keju, lebih empuk. Enyak lah. Anehnya, Subhan ga terlalu suka…hihihi
Sambil nurunin Kaliurang lagi, di km 5 liat kedai Sop Pak Min yang terkenal dan jadi bahan omongan itu. Selama keliling Jogja pun nemu cabangnya ada banyak, sekitar 5 atau 6. Kita memutuskan untuk nyoba, tapi ternyata biasa aja tuh. Cuma anget dan gurih aja. Bener-bener sop ayam doing. Agak heran juga kenapa semua cabangnya bisa pada penuh pengunjung gitu.
Hari ketiga ini capek deh, karena emang jalan-jalannya nyaris non-stop. Kita pun menyudahi acara ngeluyur dan pulang. Nyampe Paragon langsung mandi air panas, tiduran dan ngemil bakpia, nonton HBO, lalu bubuuuuu…. Hihihihi .

6 Days in Jogja #Day2




Day 2
Hoaaaahhhmmm…. Bangun di Jogja, bukan di Ciamis. Aku sama Subhan liat-liatan sambil senyum begitu bangun. Kesenengan kita karena lagi liburan lumayan panjang. Subhan nanya sama aku hari ini mau kemana, karena aku udah nyusun jadwal dan nyatet tempat-tempat yang pengen didatengin. Liburan kali ini pengen aku manfaatin untuk wisata budaya juga, so, hari kedua ini Candi Borobudur adalah agenda utama. Ngga tau kenapa, abis mandi kok aku ngantuk lagi dan ketiduran. Akhirnya dibangunin paksa sama Subhan, lalu ganti baju dan siap berangkat.
Karena sangat terpesona (cieh) sama Sego Penyetan, aku tanya ke Subhan, adakah yang buka siang2? Katanya ada di Kaliurang. Sepakat deh untuk sarapan disana. Sebelumnya mampir cuci mobil dulu di Kaliurang km 6. Dalam hati aku ngitung, aduh kalo kesiangan ke Borobudur bisa gosong parah nih, soalnya perjalanan ke Borobudur yang terletak di Magelang itu masih jauh. Tapi ya udah, berharap aja di Borobudurnya mendung. Abis cuci mobil, naik sedikit ketemu deh Sego Penyetan yang tempatnya berupa rumah makan lumayan bagus, tapi duduknya tetep lesehan. Menunya sama kayak semalam…ngga kreatif, hahahaha. Di sana sempet foto-foto dikit untuk pemanasan. Apa sih… :p
Sambil makan Subhan liat-liat peta Yogyakarta untuk ngeliat apakah ada jalan ke Borobudur lewat Kaliurang. Ternyata ada, walopun kurang pasti, jalannya bagus apa ngga. Cuma kita memutuskan untuk nyoba jalan itu karena kalo turun lagi dari Kaliurang lebih jauh. Jalan Kaliurang tuh ternyata kurang lebih mirip Lembang di Bandung ya, tapi bedanya, di sana banyak kebun-kebun salak pondoh. Dari Kaliurang ada atas akhirnya ada jalan menuju Magelang, dan kesanalah kita mengarah. Lumayan jauh juga ya Magelang, padahal belom nyampe daerah kotanya, cuma Muntilan aja. Ngikutin petunjuk-petunjuk, kita mulai menaiki jalan ke Candi Borobudur yang berada di perbukitan. Beberapa kilometer sebelum Borobudur ada Candi Kalasan yang ngga kalah terkenal. Candi yang lebih tua dari Borobudur ini justru terletak di pinggir jalan, dilindungi pagar dan taman kecil. Kita ngga turun karena udah siang banget. Kira-kira sepuluh menit kemudian tiba di kawasan Borobudur, kita puter-puter cari tempat parkir yang teduh.
Begitu turun dari mobil, aku kaget karena diserbu sama penjual-penjual souvenir asongan yang agresif banget nawarin barang dagangan mereka, kayak pensil wayang, kipas batik, topi anyaman, patung-patung kecil, dsb. Lucunya, mereka ngebanting-banting harga sendiri meski kita diam seribu bahasa ngga nawar lho….hehehehe. Aku tertarik beli topi lebar buat melindungi dari panas, lalu aku tawar menawar deh sama si mbaknya. Dari 65 ribu akhirnya itu topi pindah tangan hanya dengan 25 ribu saja….hahahahahahaha *ketawa genderuwo*.
Selesai beli tiket, satu orangnya 20 ribu, kita langsung masuk ke dalam. Eh, dipanggil sama petugas di sebuah booth, ternyata setiap pengunjung wajib pake sarung untuk menaiki candi. Oalah, ya seru-seru aja sih meskipun agak repot. Sarung batik putih bercorak item itu langsung aku belitin aja di pinggang dengan sederhana, sementara Pak Subhan agak kerepotan mencari gaya yang pas, hihihi. Pas aku foto-fotoin saat berusaha masangin sarung, dia cemberut . Kelar urusan sarung, kita mulai jalan menuju kompleks Candi yang berjarak kira-kira 1 kilometer. Kalo males jalan ada layanan kereta, bayar lima ribu. Tapi aslinya deh, dekeeeeett banget. Dan bisa sambil foto-foto dengan latar Candi Borobudur nan megah di belakang. Asik kaaaaan….
Agak menyesal juga ngga pake jasa guide untuk nemenin keliling candi, karena selain bisa menyegarkan ingatan soal sejarah candi ini, juga bisa kita suruh motoin kita, tho. Huhuhuhu. Tapi gapapa, aku lumayan masih inget soal kisah-kisah candi ini dan bisa nyeritain sama suamiku. Untuk urusan foto bareng, bisa diatasi dengan self-timer meski ga janji bisa fokus ye….
Pas nyampe di muka candi, semangatku agak drop. Karena baru inget ya Allah candinya tinggiiiiii….dan tangganya buanyak buanget. Ahuhuhuhuhuhu. Dan matahari pun telah berada tepat di puncak kepala, dan kita baru nyadar ngga bawa minum sama sekali. Yeuk, mari….
Sedikit demi sedikit, nyampe ke….level 1. Wkwkwkwkwk. Baru nyampe situ aja napasku dah kembang kempis, Subhan sampe prihatin campur sebel kali ya, menghambat pendakian nih aku. Minta istirahat dulu, minta difoto dulu…hihihi. Di setiap tingkat kita gantian foto sambil liat-liat reliefnya, liat pemandangan yang keren banget di bawah, dan sesekali nguping keterangan guide yang disewa sepasang bule :p. Makin ke atas kita makin kehausan, tapi tetep semangat menikmati candi yang majestic banget ini, aku seneng banget dapet banyak foto Subhan yang bagus-bagus. Kita pun berhasil beberapa kali foto bareng dengan self-timer, kamera ditaro di atas batu-batu candi.
Setelah nyampe tingkat teratas dan istirahat sebentar sambil menikmati pemandangan dan sinar matahari (yes, kami gosong parah disana), akhirnya kita turun. Di bawah sempet salah jalan karena jalur masuk ternyata berbeda dengan jalur keluar yang mana lebih jauh dan memutar. Di deket jalan keluar nemu pendopo untuk istirahat dan ngadem. Aku nunggu disana sementara Subhan beli minuman dari mbok-mbok yang jualan disitu. Segernya minum Fanta dingin dan Aqua dingin setelah kehausan di puncak candi. Hikssss…. Pelajaran ya next time, jangan lupa bawa minum, di kompleks candi ga ada yang jualan bo…!!!
Pas mau keluar ke arah parkiran ternyata sempat disesatkan oleh bapak-bapak penjaga pasar yang menyebabkan kita harus ngelilingin pasar kerajinan dulu sebelum keluar. Bête banget, kan? Barang-barang di pasar itu pun biasa banget, sama kayak yang di Malioboro dan Beringharjo. Arghhhh…. Ngga tau orang abis kehausan kali ye. Hampir aja aku sujud sukur begitu keluar dari pasar itu. Meskipun parkiran masih jauh, tapi lega banget bebas dari pasar yang gelap dan melingkar itu. Sambil nyamperin mobil kembali diserbu lagi sama pedagang souvenir, tapi ya cuekin aja jangan diajak ngobrol atau dijawab karena entar mereka lebih nekat. Asli lho, pas udah masuk mobil pun masih digedor-gedor. Heboh banget mereka ih.
Turun dari kawasan perbukitan, udara udah mulai adem dan kita pun cekikikan ngetawain timing yang salah banget untuk ke Borobudur, yang menghasilkan kulit kita sama-sama gosong. Abis itu angin kencang dateng dan hujan deeeeh…. Ngokk. Balik lagi menyusuri Muntilan menuju Kota Jogja, aku ngajak Subhan makan buffet di Hartz Chicken Jl. Magelang. Dulu waktu di Bandung masih ada, aku seneng banget makan ke Hartz Chicken sampe kenyang (namanya mahasiswa). Alhamdulillah perjalanan turun lebih lancar karena kita ngikutin rombongan mobil pejabat yang pake voorijder, segala macem lampu merah ditabrak dan sejam kemudian kita dah nyampe Hartz Chicken deh.
Kebetulan pas udah laper banget, abis capek-capekan. Masuk ke dalam, bayar 60 ribu per orang, lalu mulai ngambil-ngambilin makanan deh. Mulai dari salad-salad, sup, nasi, kentang goreng, ayam panggang, pasta, kue-kue, sampe eskrim. Hihihihi. Pokoknya makan sampe bega!!! Sampe dua jam lho kita disana. Pas perut udah mau meletus dan makan pun udah mulai ga enak, waktunya cabut sodara-sodara. Jalan keluar pun macem orang mau melahirkan ya, pake megang-megangin perut.
Abis dari situ, masih pengen muter-muter kota lagi, karena Subhan pengan aku hapal jalan, biar kapan-kapan kalo kesini lagi lebih enak . Terus keingetan, mau pesan sprei plus sarung bantal guling batik tulis untuk ganti punya pelanggan laundry yang tempo hari rusak sama karyawanku. Aku coba telpon tokonya, Alhamdulillah masih buka, tempatnya deket pula sama penginapan, di daerah Lembah UGM. Begitu kesana, ternyata barangnya lagi ngga ready stock, tapi yang punyanya baik banget dan mau ngebikinin khusus buat kita, dua hari aja langsung jadi katanya. Thanks God.
Perut kenyang, hati lega, tinggal mandi aja yang belom. Langsung pulang dulu kita ke Paragon, mandi, ganti baju, istirahat sebentar sambil liat-liat foto Borobudur. Di luar hujan masih terus berlangsung, bikin udara jadi sejuk… ditambah AC super dingin, laper lagi deh kita, hahahaha. Padahal tadi sama-sama bersumpah ga akan makan lagi hari itu karena kekenyangan. Dasar rakus kita….!!! Ngobrol lah soal bakmi Pak Pele, kayaknya hujan begini kosong deh karena tempatnya kan lesehan gitu. Buru-buru pergi, langsung menuju daerah parkiran keraton, dan ternyata benar. Kosong. Cuma beberapa meja yang terisi. Aku sama Subhan sama-sama pesan bakmie rebus sama es jeruk. Dan ternyata bener deh enak, sesuai review orang-orang. Kuahnya tuh panas, agak kental karena diaduk sama telor, dan mie-nya lembut. Suwiran ayamnya juga banyak. Top banget deh Pak Pele. Lebih istimewa lagi karena dimasaknya pake anglo, sehingga lebih wangi. Ga salah deh kalo mobil-mobil shuttle hotel-hotel berbintang pun bolak-balik nganter tamunya makan kesini.
Habis makan bakmie, puter-puter kembali dilakukan, yang berakibat aku pun mulai hapal sedikit-sedikit. Horeeee…..!!!! Jam 9.30 udah mulai nguap, akhirnya mengarah pulang, sebelumnya mampir Indomaret deket penginapan dulu, beli sandal jepit, air minum, dan cemilan. Let’s head to our room and have some sleep, papi… .

6 Days in Jogja #Day1




Alhamdulillah banget, akhirnya aku dan suamiku bisa juga liburan ke Jogjakarta. Sejak sebelum nikah, dua setengah taun yang lalu, kita berdua udah kepengen banget jalan-jalan ke kota gudeg yang menawan itu. Kalo aku alasannya karena terpikat bener sama kebudayaan Jawa, khususnya Yogyakarta yang kaya dengan sejarah dan peninggalan yang terekam keraton, museum-museum, candi-candi, dan lain-lain. Kesengsem juga sama suasana hidup di sana yang terlihat “beda” sama kota-kota lain. Sementara suami pengen nostalgia jaman kuliah S1-nya dulu di Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII).
Pas banget suami dapet jatah ngabisin sisa cuti taunannya secara beruntun dari tanggal 7 sampe tanggal 14 November kemaren. Hari Minggu tanggal 6-nya kita masih ber-Idul Adha ria sama keluarga di Tasik. Sebelum “mudik” ke Tasik dari Ciamis udah sempet packing sebagian, terutama barang-barang aku. Baju-bajunya Subhan juga udah disiapin sih, tapi karena kopernya keburu penuh (hahahahaha) akhirnya ditaro di keranjang plastik dulu sebelum minjem koper tambahan sama kakakku.
Minggu malem, sesudah selesai kurban bareng keluarga mamahku, dan mengunjungi keluarga suami, kita pulang lagi ke Ciamis. Nyampe rumah kontrakan tercinta, aku dibantu Subhan (dengan do’a) langsung lanjut packing. Tadinya kita udah sepakat mau light packing aja, satu koper berdua, eh kok jadinya dua koper plus satu keranjang plastik berisi handuk, topi, mukena, kotak-kotak sepatu (4 pasang :p) dan….setrikaan!! hahahaha….
Setelah beres packing, bersihin dapur, dan ngasih instruksi-instruksi harian sama karyawan laundry yang tinggal di rumah, akhirnya kita tidur, nabung tenaga buat perjalanan panjang besoknya.

Day 1
Tanggal 7 November, bangun agak kesiangan. Uhuk. Saling menyuruh satu sama lain untuk mandi dan siap-siap duluan, sampe akhirnya aku “ngalah” dan bangun karena inget belom ngosongin tempat sampah dapur. Abis itu mandi, periksa barang bawaan, trus gedor-gedorin kamar mandi nyuruh Subhan cepet-cepet karena alat mandinya mau di-pack…hahahaha
Sekitar jam 7 pagi kita mulai masuk-masukin barang ke mobil dan tertegun, karena bawaan kita ternyata buanyak yaaaa…. Ditambah bawa sprei dan bedcover karena aku pengen jaga-jaga takutnya penginapan kita kasurnya kurang bersih. Begitu lho….
Kelar semuanya, kita berangkat, tapi mampir dulu ke laundry kita, KLINik Cuci. Karyawan-karyawan disana udah mulai bersih-bersih dan siap kerja. Setelah ngasih sejuta pesan dan nasehat ke mereka, we left Ciamis! Horeeeee…… tapi kemudian memasuki daerah Kawali baru sadar kalo belom sarapan dan perut mulai demo. Subhan keukeuh pengen nyari tukang bubur ayam yang deket sama bengkel ban karena dia lupa nambah angin. Baiklah, sebagai istri yang baik saya pun bersabar…. Sampe akhirnya udah masuk Kota Banjar, ay tak tahan lagi, langsung agak ngambek minta brenti di tukang bubur pertama yang terlihat. Hahahahaha. Singkat cerita akhirnya nemu tukang bubur dorong yang mangkal deket suatu perumahan, kita turun dan makan. Buburnya biasa aja, tapi ngga buruk juga rasanya. Alhamdulillah perut anget lagi deh…
Kelar sarapan kita lanjut lagi sambil terus lirik kanan kiri nyari bengkel ban, tapi ga nemu-nemu. Perjalanan dari Ciamis ke Jogja tuh melewati banyak kota, kira-kira 6 deh kalo ga salah. Habis Ciamis kan Banjar, nah dari sana langsung Majenang yang mana udah termasuk propinsi Jawa Tengah. Karena kita berangkat pagi, matahari masih lumayan teduh, jalanan pun lancar, ga ada macet-macetnya. Aku asik liat-liat situasi di kanan kiri sambil tunjuk sana tunjuk sini. Subhan keliatan sumringah juga, seneng dia karena cutiiiiiii dan bebas sejenak dari kerjaan kantornya yang padet itu. Sepanjang jalan itu kita selalu ngeliat banner-banner restoran Pringsewu, ada kali tiap 100 meter. Kalo dipikir-pikir sih annoying banget, tapi lama-lama jadi penasaran juga, hehehe. Waktu ngelewatin Pringsewu cabang Jalan Raya Banjar-Majenang, kita masih kenyang. Terus ternyata ada lagi dia di daerah Sumpiuh, Banyumas. Kalo diperkirakan, kita bakal nyampe daerah itu pas jam makan siang dan solat dzuhur, jadi direncanakanlah untuk makan siang disana.
Suami sempet nyebut kangen makan di rumah makan Lestari, daerah sebelum Banyumas gitu, tapi sebulan sebelomnya waktu aku ke Jogja sendirian untuk ikut workshop pengusaha laundry, travel yang aku naikin brenti disana dan aku makan sedikit. Tapi begitu nyampe Jogja dan masuk hotel, aku langsung mules semules-mulesnya. Aku anggap si Lestari itu biang keroknya ya… jadi males kalo harus makan di sana lagi.
Jam 12 siang tepat, sampe lah kita di Resto Pringsewu Sumpiuh. Kesan pertama ya bagus tempatnya, dibanding rumah-rumah makan lain di daerah situ. Begitu turun dari mobil langsung disambut mbak-mbak dan mas-mas berpakaian kebaya dan beskap, yang mana agak lebay (hehehehe). Kita milih duduk deket taman, dan Subhan langsung aja nyobain kursi pijetnya karena dia cape nyetir. Aku pesen nasi goreng seafood, Subhan pesen bebek goreng + nasi, buat appetizernya jamur goreng crispy dua rasa: saos asam manis dan mayones. Minumnya iced lemon tea buatku dan teh panas buat suamiku. Kita udah memasuki wilayah-wilayah dimana teh panas itu ngga gratis, sodara-sodara. Kalo di daerah Sunda kan teh panas biasa disajikan gratis baik di rumah makan besar maupun warung-warung kecil.
Ngga lama kemudian, makanan kita dateng. Rasanya ga sesuai harapan karena awalnya kita ngeliat ini rumah makan besar, cabangnya banyak, tempatnya bagus, dan pelayanannya lumayan keren. Tapi ya rasa makanannya bener-bener biasa, walopun porsinya gede-gede. Nasi gorengku plus jamurnya ga abis, lalu kita minta dibungkus aja sisanya. Setelah makan, aku bayar di kasir, eh, dapet voucher 1 hidangan utama gratis di semua cabang Pringsewu. Lumayan deh. Abis itu kita solat dan ngelurusin kaki dulu di musolanya.
Kembali ke mobil, kita langsung ngelanjutin perjalanan. Cuaca cerah, ngga panas, ngga hujan. Ada sedikit macet di jembatan Kali Serayu yang rupanya baru aja roboh dan sedang diperbaiki. Aku kagum gitu liat kali-nya. Lebar banget dan terlihat dalam *bergidik*. Setelah itu, aku tidur lumayan pules karena kenyang :p, dan baru kebangun lagi pas mulai memasuki Purworejo. Langsung seger deh, karena berarti udah deket Jogjaaaaaa!! Jam menunjukkan pukul 2 siang, perkiraan Subhan jam 4 kita nyampe Kota Jogja. Aku langsung sibuk e-mail2an sama Mbak Lani dari d’Paragon (www.dparagon.com) , boarding house yang akan kita inapi selama di Jogja, ngasi tau kalo kita akan nyampe kira-kira jam 4 atau jam 5 sore.
Aku nemu informasi soal d’Paragon ini awalnya dari yogyes.com, trus liat-liat websitenya. Dia tuh semacam kost-kostan (lumayan) eksklusif dengan fasilitas tempat tidur double/single, AC, TV kabel, air panas, parkirannya luas, tapi ngga dikasih sarapan. Di Jogja ada 4 tempat di lokasi-lokasi yang strategis, kayak Gejayan, Seturan, Condong Catur, dan satu lagi lupa. Kita pilih yang di daerah Jl. Gejayan (Jl. Affandi) karena menurut suamiku paling enak karena deket ke UGM, Kaliurang, dan ngga terlalu jauh juga dari Malioboro.
Sesuai perkiraan Pak Subhan yang (supir) handal itu, hihihihi, kita nyampe Jogja kota jam 4 sore setelah sebelumnya ngelewatin Kulon Progo, Wates, dan Bantul. Sempet muter-muter sedikit ke daerah Malioboro sebelum akhirnya mengarah ke Gejayan. Alhamdulillah akhirnya sampe juga dan bisa istirahat. Alhamdulillah juga karena d’Paragon itu aslinya bagus, sesuai sama foto di website. Tempatnya masih baru, bersih, lumayan luas kamarnya, kamar mandinya mungil tapi enak, dan surprisingly kasur+bantal+gulingnya King Koil jadi empuuuuukkk. Sprei dan kawan-kawannya pun bersih wangi abis di-laundry , aku senang! AC-nya dingin dan masih baru. Setelah beberes administrasi, mulai nurun-nurunin (banyak) barang, bongkar isi koper, masukin ke lemari baju atau simpan di atas meja. Abis itu mandi biar badan seger. Selesai mandi sempet tidur sebentar sambil nunggu Maghrib.
Jam 6.30 kita buru-buru keluar untuk mulai jalan-jalan….yaaayyy!! Tapi sebelumnya cari makan dulu, yess…. Karena laper banget bo! Suamiku yang mantan orang Jogja ini kangen banget makan Sego Penyetan Sambel Bawang a la Banyumas di daerah Colombo-UGM. Cuma lima menit kita udah nyampe di lesehannya dan siap makan. I was so excited karena suasana Jogjanya terasa banget. Makan di lesehan trotoar kampus UGM tuh asik lho, hahahaha. Aku pesen nasi+ayam bakar+tahu+tempe+sambel bawang. Suamiku pesen nasi+telor+tahu+tempe+sambel bawang. Tadinya pengen tambah sambel teri tapi lagi ngga ada. Di Jogja nih emang banyak banget tempat yang menawarkan sambel bawang sebagai andalan, jadi ternyata ngga melulu manis yee…
Makanan kita disajiin di alas makan bambu, di atas daun pisang, dilengkapi lalapan bayem rebus. Hmmm, lauknya boleh sederhana, tapi sambel dan lalapannya tuh enyak banget. Sambelnya luar biasa pedes. Sambel bawang tuh semacem sambel cengek+bawang merah+sedikit terasi+daun jeruk. Pedesnya nampol banget. Cocok dengan hujan yang mulai turun malem itu. Aku sama Subhan minum iced lemon tea, rasa teh-nya enak deh. Pahit tapi pas gitu. Selesai makan, aku terkaget-kaget pas bayar karena berdua cuma abis 21 ribu, hihihihi.
Dari daerah Colombo kita langsung menuju alun-alun yang deket Keraton, yang ada gedung BNI dan Kantor Pos itu. Kalo ngga salah itu dikenal sebagai kawasan nol kilometer juga. Tujuan kesana adalah mau foto-foto….karena lampu di perempatannya itu terang dan cantik bangeeeet. Nyampe sana kita parkir di daerah belakang Mirota Batik, lalu jalan kaki sampe alun-alun. Udah banyak banget orang-orang yang sekedar nongkrong di bangku-bangkunya sambil pacaran, ngumpul sama temen, atau jajan kacang rebus plus wedang ronde, atau foto-foto juga sama kayak kita. Ada beberapa anak kuliahan yang kayaknya lagi ngerjain tugas fotografi. Ngeliat mereka bawa-bawa tripod, aku langsung merasa goblok sekaligus iri, soalnya liburan berdua suami bawa kamera DSLR tapi ga punya tripod. Terancam ga bisa foto berdua ini mah….hahahaha
Kita ganti-gantian foto bareng dengan latar belakang persimpangan, gedung BNI, dan lampu-lampu jalan Jogja yang cantik dan unik itu. Aku ngajak Subhan nyebrang ke gedung BNI dan foto-foto nempel ke dindingnya. Nuansa di gedung itu mirip banget sama Gedung Merdeka di Braga, Bandung. Meskipun itu hari Senin, tapi banyak juga pengunjung alun-alun yang merupakan wisatawan kayak aku dan Subhan, soalnya deket dari Malioboro dan Museum Benteng Vrederburg yang notabene tempat tujuan wisata.

Puas foto-foto dan duduk-duduk “menyerap” suasana, kita kembali ke mobil dan muter-muter kota, ngeliat Tugu Jogja yang legendaris, ngitarin jalanan kota tua di belakang keraton, dan ga sengaja nemu lesehan Bakmi Pak Pele yang terkenal itu. Sayang banget kita masih kenyang dan antrian pembelinya luar biasa panjang, sehingga kita memutuskan makan bakminya next time aja.
Meski kenyang, tapi ada perasaan pengen ngemil dan nongkrong aja gitu loh :p. Kebetulan tau tempat nongkrong di daerah Kaliurang yang namanya Kalimilk. Tau dari temenku yang tinggal di Jogja, Icha, dan beberapa hasil review di blog-blog orang. Penasaran, akhirnya kita carilah si kalimilk ini, yang sesuai namanya menyajikan susu segar aneka rasa. Berbekal petunjuk dari Icha, setengah jam kemudian kita nyampe. Hahahaha, nyasar dulu soalnya. Ternyata harusnya naik dari Jl. Palagan (Monjali) instead of Jl. Kaliurang. Tempatnya nyempil deket perumahan Lempongsari.
Kalimilk tuh mirip Wale, sedikit. Rame banget, padahal pas kita kesana tuh udah sekitar jam 10 malem. Isinya mahasiswa semua, dan kita paling tua kayaknya. Begitu dateng langsung disambut waitress berkaos UGM yang ramah. Aku pesan Banana Milk, Subhan Caramel Milk ukuran medium, cemilannya Risol Keju Kornet. Ga lama kemudian pesenan kita dateng. Hmmm… susunya enak deh, ga ada rasa enegnya. Suasana yang dingin ditubruk susu dingin tetep enak, karena yang hangat itu obrolannya, hihihi. Risolnya juga enak, lembut gurih gitu.
Tapi namanya pasangan dewasa tua ya, ngga kuat nongkrong lama-lama. Pengaruh rasa capek akibat perjalanan jauh mulai “menendang” dan kita pun sepakat untuk pulang dan tidur, nyiapin tenaga buat besok jalan-jalan lagi. Total tagihan di Kalimilk ini sekitar 35 ribu. Sepanjang jalan pulang berasa tenang banget, karena udah nyampe di Jogja dan masih punya waktu sekitar lima hari untuk menikmati kota istimewa ini. 

Rabu, 16 November 2011

it's been a long time....

wow...
udah setaun lebih ternyata blog ini nganggur dan sedikit jamuran...hihihi.
makin lama kok makin susah untuk nulis di blog.
jadi banyak kejadian penting yang ngga diceritain dan berpotensi terlupakan deh.
padahal kan tujuan awal pembuatan blog ini adalah untuk "merekam" kenangan-kenangan dan pikiran-pikiran iseng yang terjadi dalam hari-hari saya.

well, insyaAllah, mau mulai rajin nulis di sini lagi aaah....
biar ngga karatan memori-memorinya... :)

Minggu, 07 Februari 2010

Isma Doesn't Share...

Kalo Joey Tribbiani di "Friends" kerap lantang menyatakan, "Joey Doesn't Share Foods!" setiap kali ada orang yang berusaha mencomot makanannya, saya juga sama, tapi bukan dalam hal makanan. Well, sebenarnya saya juga ngga terlalu suka berbagi makanan, sih...saya kan rakus...hihihi
Yang pasti di sini, saya ngga suka berbagi kamar mandi. Di dalam istilah kamar mandi tersebut juga termasuk kloset dan teman-temannya. Entahlah, kenapa saya berat dan sangat malas menggunakan kamar mandi yang sama dengan orang lain. Dengan keluarga sendiri sekalipun. Kalo dengan suami, sih, sekarang sudah mulai terbiasa. Walaupun terkadang, setiap kali suami habis memakai kamar mandi untuk pipis dan pupi, saya masih (terlalu) sering ngomel-ngomel mengingatkan untuk ekstra flush, siram sana siram sini, dan semprot-semprot wewangian. Suami jadi suka bete, sih...hehehe
Itu masalah di dalam rumah, ya...Nah, kalo di luar rumah, saya ngga pernah pipis atau pupi di tempat umum, kecuali kepepet berat abis-abisan. Mau di mall, di rumah sakit, di terminal, di pom bensin, di mana pun!! Waktu masih bekerja pun, di tiga kantor tempat saya sempat singgah, saya nyaris ngga pernah menggunakan kamar mandi untuk pipis dan pupi. Biasanya cuma buat merapikan baju, wudlu, atau sekadar cuci muka dan tangan.
Beruntung (atau justru aneh, ya?) saya punya kemampuan menahan pipis dan pupi untuk waktu yang lamaaaaa...Meskipun pada akhirnya begitu sampai di rumah atau kost, saya pasti terburu-buru mengejar kamar mandi...hiii...jadi merinding kayak orang nahan pipis...hahaha
Pernah lho, waktu itu saya masih kerja jadi wartawan, selesai liputan saya lalu nulis berita-berita, beres jam 7 malam. Tadinya saya mau langsung pulang, karena "hajatan" sudah menunggu, tapi ada rapat redaksi mendadak, semua harus ikut tanpa kecuali. Rapat berlangsung sampai jam 12 malam lebih. Saya hampir ngga bisa nahan lagi. Mau dituntaskan secara darurat di WC kantor pun saya ngga sanggup, karena 98% penghuninya laki-laki, kamar-kamar mandinya mengerikan!! Saya buru-buru keluar kantor, ngebut ke kost, membuka kunci pintu kamar dengan grasa-grusu, lalu memburu kloset.
Hampir semua teman saya tahu soal kebiasaan itu. Kalau keluarga dan suami--yang ketika itu statusnya masih pacar--sih sudah pasti sangat hapal. biasanya mereka gemes sekali, dan sering menasihati. Beberapa bahkan mau repot-repot mengumpulkan informasi toilet umum yang bersih, misalnya di mall A atau di pom bensin B. Tapi, ngga ngaruh, tuh...saya tetep benci kamar mandi umum... :p

Sebelum saya mulai kuliah dan kost sendiri, sih, rasanya hal itu belum muncul banget, karena di SMP dan SMA dulu saya sering pipis di toilet sekolah. Bahkan sering mandi di ruang bilas kolam renang seusai pelajaran olahraga. Tapi sejak dulu pun, saya udah pilih-pilih kamar mandi. Di rumah orangtua saya yang lama, saya selalu memilih kamar mandi yang sebelah kanan dari dua buah yang berderet. Bila kamar mandi favorit itu sedang dipakai, saya rela menunggu, padahal yang sebelahnya lagi kosong. Hal ini berlaku juga di sekolah dan tempat-tempat lain. Pertama kali ngekost, saya ngga dapat kamar dengan kamar mandi sendiri. Tapi di rumah kost itu ada sebuah kamar mandi di dekat dapur yang tidak pernah dipakai teman-teman lain karena ukurannya lebih kecil dibanding yang lain. Saya lalu membersihkan kamar mandi itu, memasang rak sabun, meletakkan alat-alat mandi, dan mengklaimnya sebagai kamar mandi pribadi. Lucky, eh? :p
Di tempat-tempat kost yang berikutnya juga sama, saya selalu memilih kamar mandi yang jarang dipakai orang. Sampai akhirnya, Alhamdulillah, papah menaikkan jatah uang kost dan saya bisa nyewa kamar yang dilengkapi kamar mandi. Senangnya tak terkira banget! Saya bisa mandi dengan tenang, pipis dan pupi dengan tenang tanpa merasa kloset yang diduduki telah "ternoda". Tahun-tahun berikutnya sampai terakhir kali saya tinggal di Bandung pada April 2009, kamar kost saya selalu berkamar mandi.

Tahun 2008, orangtua saya pindah rumah, dan di rumah baru itu ada sebuah kamar yang dilengkapi kamar mandi sendiri. Saya langsung melobi papah dan mamah supaya kamar itu jadi milik saya. Kakak saya yang sudah menikah dan punya rumah sendiri protes, Adik yang masih kuliah pun sama. Tapi karena keahlian saya merayu, dan karena orangtua saya juga ngga naksir sama kamar itu, permintaan saya dipenuhi. Meskipun saat ini saya ngga tinggal di sana, tiap kali berkunjung, saya selalu menyempatkan mampir ke kamar dan bersih-bersih kamar mandi.
Di rumah tempat saya tinggal sekarang, yaitu rumah milik mertua yang tidak sedang dipakai, ngga ada kamar seperti itu. Ada sih kamar mandi di kamar tidur mertua, tapi ngga ada klosetnya. Kamar mandi di lantai atas, dekat kamar saya dan suami, juga tidak berkloset. Hanya ada satu kloset, yaitu di kamar mandi bawah. Untungnya, "asisten" yang bantu-bantu di rumah tidak tinggal di sini. Dia rumahnya tepat di belakang, sehingga ngga perlu tinggal di sini, cukup bolak-balik untuk mengerjakan ini itu lalu kembali ke rumahnya sendiri. Jadi, kloset di kamar mandi bawah itu hanya dipakai oleh saya dan suami. Alhamdulillah...heehehe

Saya ngga pernah bermaksud untuk menganggap orang lain jorok dan membuat saya jijik. Saya juga tahu kalau saya bukan orang paling higienis sedunia. Cuma, saya ngga tahan membayangkan (apalagi beneran) berbagi kamar mandi dengan orang lain, terutama yang asing. Kira-kira, kebiasaan ini harus dipertahankan atau dihilangkan, ya? hihihi...
Yang jelas, kalau nanti saya dan suami punya rezeki untuk memiliki rumah sendiri, saya akan sangaaaaaaat...berkonsentrasi pada kamar-kamar mandinya... :p

Jumat, 22 Januari 2010

It's been 8 months...!!!

Hari ini, genap 8 bulan kebersamaan saya sama Subhan, as husband and wife... ;p
Begitu inget kalo hari ini adalah tanggal 23, berbagai macam memori tiba-tiba aja membanjir dan bikin saya tersenyum-senyum atau terisak sedikit saat mengenangnya satu per satu.
Sampai detik ini, saya masih amazed dengan kenyataan bahwa Subhan adalah suami saya.
Dulu sekali, waktu kami masih sama-sama kelas 1 SMA dan dia tengah berpacaran dengan teman saya, tidak pernah sekali pun hati saya menganggap dia sebagai cowok yang menarik untuk dijadikan pacar.
Entah kenapa.
Mungkin karena saat itu kepribadian dia belum seperti sekarang, belum begitu kuat dan tegas...hehehe
Selain itu, dulu dia "haram" bagi saya karena tengah berpacaran sama temen saya.
Pertemanan saya dengan dia pun biasa aja, layaknya hubungan "temennya temen".
Dia pun mengakui kalo waktu itu saya hampir invisible di mata dia...hahaha...kurang ajar, ya?

7 tahun kemudian, yaitu tahun 2007, kami bertemu lagi di Bandung.
Saat itu kami sama-sama melamar kerja di suatu perusahaan, sama-sama lolos ke tahap trainning.
Selama masa trainning yang berlangsung kira-kira 10 hari, kami masih bersikap biasa, tidak akrab meskipun sama-sama berasal dari Tasikmalaya. Pokoknya biasa saja. Saya malah lebih rajin berhaha-hihi dan jalan-jalan bareng teman-teman lain yang baru kenal.
Di sela-sela trainning dia rajin sekali sms-an dengan pacarnya saat itu, dan saya pun sering dijemput pulang oleh TTM-an saya.
Saat itu saya baru beberapa bulan lulus S1 dan sudah 5 tahun tinggal di Bandung, sementara dia sudah lulus kuliah setahun sebelumnya di Yogyakarta dan kemudian menetap di Bandung karena ayahnya dinas di Bandung.
Singkat cerita, di akhir masa trainning saya diterima bekerja di perusahaan itu, tapi saya mengundurkan diri karena ingin mengikuti tes rekrutmen wartawan harian terbesar di Jawa Barat yang dimulai ketika trainning sedang berlangsung.
Subhan tidak beruntung selama masa trainning, lalu berpisahlah kami dan tidak pernah bertukar kabar lagi, tapi kami sempat bertukar nomor telepon.

Setahun kemudian, sekitar awal bulan Maret, saya dan Subhan sempat sms-an waktu dia menanyakan rute menuju salah satu kantor salah satu bank untuk mengikuti wawancara kerja. Saat itu saya sedang bekerja di Publishing Service di daerah Jalan BKR, Bandung.
I gave him the direction, and a few days later he asked for another direction for another job interview.
Nama dia mulai sering muncul di ponsel saya.
Lalu, suatu hari, dia sms mengabarkan kalo dia sedang ada di daerah dekat kantor saya. Kami pun makan siang bareng, tanpa tujuan apa-apa. Cuma dua orang yang sama-sama sedang ngga punya teman makan siang.
Kami makan di Pizza Hut Buah Batu, ngobrol-ngobrol biasa aja, lebih banyak membahas kabar mantan pacarnya/teman saya, dan kabar teman-teman yang mengikuti trainning itu.
Waktu itu saya makan banyak banget, tanpa malu atau sungkan. Namanya juga di depan teman yang ngga terlalu "dianggap". hehehe...
Dia beberapa kali meledek selera makan saya dan mengaitkannya dengan badan saya yang ndut...
Selesai makan, saya dan Subhan berebut hendak membayar tagihan. Dia berkeras dan berkata saya boleh membayar lain waktu kalo kami makan bareng lagi.
Saya bilang, "Oke...!"

Setelah itu masih biasa aja, tapi kami mulai sering sms-an.
Beberapa hari setelah makan siang itu, dia pamit pergi ke Jogja untuk menghadiri pernikahan temannya.
Setelah pulang dari Jogja, dia membawakan saya sekota bakpia, tapi tidak memberikannya langsung, hanya dititip ke satpam.
Lalu mulailah kebiasaannya menitipkan makanan untuk saya ke satpam kantor.
Saya ngga "terima" dikirimi macam-macam tanpa punya kesempatan untuk membalas. Saya bilang begitu ke Subhan. Saya mengajaknya makan sore, sambil minta diantar pulang...hehehe...

Sejak itu kirim-kiriman sms makin rutin dan jadi kebiasaan bagi saya dan dia untuk saling mengucapkan selamat pagi dan selamat tidur.
Nonton bareng mulai dilakukan, juga jalan-jalan bareng.
Melalui pertemuan dan komunikasi yang makin intens itu, saya mulai merasa perasaan yang ngga biasa...hehehe
Saya mulai melihat dia dari sudut pandang yang sama sekali berbeda, karena dia memang berbeda dari Subhan yang saya kenal di masa SMA maupun masa trainning setahun sebelumnya.
Subhan yang saya lihat di tahun 2008 itu kuat sekaligus lembut, tegas sekaligus manis, dan teramat baik.
Dia memperlakukan saya dengan amat baik. Bicaranya sangat sopan, dan sikapnya selalu pas di setiap suasana.
Saya tahu saya suka dan jatuh cinta sama dia.

Sialnya, saya ngga bisa begitu aja berterus terang soal perasaannya saya ke dia.
Karena dia adalah mantan pacarnya temen baik saya, dan...belum tentu juga dia punya perasaan yang sama.
Tapi cuma beberapa hari aja saya menahan uneg-uneg itu. Suatu malam, saat sedang sms-an dengan Subhan, saya ngga tahan dan tiba-tiba aja bilang kalo saya suka sama dia. Dan karena menyadari betapa complicatednya situasi itu, saya bilang ngga mau ketemu dia lagi dan berhubungan melalui media apapun.
Alangkah kagetnya saya waktu dia menjawab bahwa dia juga suka sama saya, dan merasakan kebingungan yang sama. Dia tahu bagaimana eratnya pertemanan saya dengan mantan pacarnya waktu SMA.
Malam itu kami sepakat untuk mencoba saling menjauh, meski akhirnya saya jadi susah tidur karena sedih-sedih ngga jelas bercampur malu...hihihi

Tapi kesepakatan saya dan dia tampaknya terlalu lemah dibandingkan dengan perasaan yang tengah berkembang...hehehe...akhirnya saya dan Subhan mulai berkomunikasi lagi, ketemuan lagi, dan tau-tau sudah saling mengakui sebagai pacar.
Tanggal yang kami anggap sebagai tanggal "jadian" adalah "malam pengakuan dosa" itu.

Kami pun berpacaran, lumayan lancar...dibumbui pertengkaran karena ini itu, berseberangan di sini di situ, berantem-beranteman...Tapi sumpah, deh...Lebih banyak indah-indahnya. Jauuuuuuhhhh....lebih banyak.
Seumur hidup, baru Subhan yang terasa pas banget mengisi kekosongan hidup saya. Ngga tau gimana, dia sangat-sangat bisa mengerti dan membaca saya.
Dia sangat jago memanjakan saya, sekaligus memberikan teguran yang mengena bila saya berbuat salah.
Hanya dia laki-laki yang bisa membuat saya mendengarkan.
Saya merasa ditemukan, dan tentu saja, menemukan...

Bulan November 2008 dia mendapat pekerjaan di Ciamis, yang langsung dia ambil, karena itu pekerjaan pertama yang dia dapat dan dekat dengan rumahnya di Tasikmalaya.
Sejak itu dari Senin sampai Jum'at dia tinggal di Tasikmalaya, bekerja di Ciamis, lalu Jum'at malam berangkat ke Bandung untuk bertemu saya--pastinya--dan mengikuti kuliah magisternya di Unpad yang berlangsung setiap Sabtu dan Minggu.
Saya sedih banget waktu itu, karena ngga suka berjauhan dengan dia. Senin sampai Jum'at benar-benar hari yang membosankan dan menyiksa buat saya...hehehe
Tapi kesedihan itu ngga berlangsung lama, karena bulan Januari 2009, Subhan melamar saya secara resmi.
Saya pun berganti status menjadi tunangannya.
Keluarga kami mulai menetapkan hari pernikahan dan merancang segala sesuatu untuk perayaannya, dan tanggal 23 Mei 2009, impian saya jadi nyata. I've become his wife, and he is my husband, now... :)

Saya benar-benar ngga percaya dengan kemudahan dan kelancaran yang kami peroleh sejak berpacaran sampai menikah. Waktu pacaran kami hanya 1 tahun 1 bulan.
Keluarga kami bertemu untuk pertama kalinya pun saat lamaran.
It was truly amazing!
Alhamdulillah ngga ada hambatan yang berarti, ngga ada tentangan dari keluarga. Semuanya lancar. Alhamdulillah, ya, Allah...

Bagi saya, it was like magical...
Dulu saya sempat pacaran 4 tahun dengan orang lain, tapi masalah dan hambatan yang menghalangi untuk menjalin hubungan yang lebih serius ngga pernah berhenti datang.
Subhan juga sama, sebelum pacaran dengan saya, cewek-cewek yang dekat dengannya selalu saja ngga bisa mengimbangi perhatian dan komitmen yang dia beri.

Sampai hari ini, detik ini, hubungan kami masih sehangat 8 bulan lalu dan sebelumnya.
Kami masih saling kangen setiap kali berpisah untuk beberapa jam.
Saya masih menderita kalo terpisah dari dia selama satu atau dua hari.
Saya masih takjub melihat wajahnya di pagi, setiap kali kami bangun tidur.
Saya masih mengucap syukur di dalam hati setiap kali melihat senyumnya, mendengar tawanya, merasakan genggaman tangannya, menikmati pelukannya...

I still, and will always love my husband forever...
And hopefully he will always be my only couple in this world and in the after life...
Aamiin...Aamiin...Yaa Rabbal 'Alamiin...




I Love You, Dear Husband...