Minggu, 12 April 2009

Masih berhubungan dengan postingan sebelumnya. Soal pernikahan saya dan kesehatan papa. Jum’at, 10 April kemarin, keluarga saya yang diwakili kakak, dan keluarga Subhan mengadakan rapat panitia di Tasikmalaya, bersama pihak dari EO pernikahan kami dan beberapa kerabat. Perbincangan dan diskusi mereka tidak hanya meliputi teknis pelaksanaan pernikahan, tetapi juga kesehatan papa saya. Beberapa dari mereka mengusulkan supaya akad nikah kami dimajukan saja, tidak perlu menunggu resepsi yang dijadwalkan pada 23 Mei mendatang. Maka, muncullah wacana untuk mengadakan akad nikah di hadapan papa saya, dalam satu atau dua minggu ke depan, di rumah sakit Advent.
Hmm…saya sih senang kalo dimajukan. Karena, berarti saya bisa segera berdua-selalu-seterusnya sama Subhan, yang merupakan keinginan terbesar saya. Tapi, entah, sepertinya mental saya terlanjur menyiapkan 23 Mei sebagai hari “pelepasan” itu, bukan sebuah tanggal random di bulan April. Lagipula, setelah akad nikah itu, tentunya saya harus segera ikut Subhan untuk tinggal di Tasik. Padahal, saya belum membereskan kost-kostan, menyiapkan barang-barang yang akan saya bawa dan tinggalkan. Belum merapikan urusan ini dan itu juga. Hmm….bingung, ya? Tadi saya SMS teman, Annisa, untuk curhat. Dia menjawab, “Wah, kalo emang jalannya harus begitu, ya diterima aja, toh, ngga ada jeleknya. Walopun agak-agak kayak cerita sinetron, ya, Ma…?” Begitu katanya…hehehe…
Lalu pikiran saya lari kepada kebaya dan beskap yang sudah dipesan untuk acara akad. Apakah pakaian itu jadi ngga terpakai nantinya? Lalu kakak saya nelpon dan mengatakan kalau kebaya dan beskap itu tetap bisa dikenakan untuk upacara penyambutan pengantin laki-laki dan beberapa ritual adat. Saya sekalian menanyakan paket siraman yang sudah terlanjur diambil. Tak terbayang rasanya nanti, kalau saya harus tetap siraman sehari sebelum resepsi meskipun saat itu saya sudah menikah…hehehe…aneh, pastinya. Ngga akan terasa sakral dan sedih lagi. Lagi-lagi kakak saya sudah punya jawaban yang merupakan hasil diskusinya dengan pihak EO. Yaitu, ritual tersebut dibatalkan sama sekali atau tetap diadakan sehari sebelum saya akad nikah di bulan ini. Hah? Saya bengong lagi. Gimana caranya? Siraman biasanya diadakan di rumah calon pengantin wanita, ditemani ayah dan ibu serta saudara-saudara. Rumah saya di Tasik, dan mama papa saya di Bandung, di rumah sakit. Ah, bingung.
Saya ingin sekali diskusi lagi Subhan. Terutama untuk masalah kesiapan kami berdua. Karena kami sama-sama kaget dengan usulan dari keluarga ini. Sayangnya, saya harus menunggu sampe sore, karena sekarang Subhan lagi kuliah. Mungkin nanti sore baru bisa ngobrol, di perjalanan menengok papa ke rumah sakit, atau sesudahnya.

0 komentar: