Jumat, 10 April 2009

so little...so much...

Well...Entah apa maksud judul di atas. Mungkin sekadar mengungkapkan kesempitan yang sedang saya rasakan.
Ehm, bukan kesempitan baju, sih. Well, that's a problem too...Hehe
Tapi yang saya maksud adalah kesempitan di dalam hati.
Dalam 3 minggu terakhir, banyak yang terjadi. Yang paling menghentak adalah masuknya kembali papa saya ke Rumah Sakit Advent di Bandung sini sejak 23 Maret lalu. Ini adalah anvaal-nya yang terparah. Papa susah bernapas, prostatnya memburuk, gula darah naik, dan stroke-nya sudah menyerang area tenggorokan, pita suara, selain kedua kaki dan tangan kiri.
Akibatnya, papa ngga bisa menelan makanan atau air, sulit bicara, sampai kemudian suaranya hilang sama sekali.
Di Advent, papah dipasangi selang makanan, oksigen, dan infus. Tangan kanannya diikat karena selalu berusaha melepaskan selang makanan yang terpasang dari hidung hingga ke lambung.
Dari hasil pemeriksaan dahak yang menghambat napasnya, diketahui bahwa paru-paru papa kena infeksi, sebagai akibat berbaring terlalu lama. Menurut dokter paru-paru, hal tersebut selalu terjadi pada penderita sakit yang terpaksa berbaring dalam jangka waktu panjang.
Karena dahak yang diakibatkan oleh infeksi terus menyulitkan pernapasan, meski sudah diberi terapi uap dan penyedotan, dokter menyarankan operasi untuk membuat lubang saluran napas di leher bagian depan. Kami sekeluarga setuju, walaupun mama sudah lelah dan ingin merawat papa di rumah saja. Kondisi kesehatan mama pun ikut menurun karena terus-menerus nemenin papa yang ngga mau lepas dari beliau.
Setelah operasi, papa ditempatkan di Health Control Unit (HCU), sejenis ICU, dan hanya bisa dijenguk dua kali dalam sehari, masing2 selama 2 jam. Ngga tega banget ngeliatnya...Papa tampak amat lemah dan putus asa, bosan, letih. Bermacam ekspresi bercampur di wajahnya. 7 tahun sudah berlalu sejak serangan stroke-nya yang pertama, dan sekarang penyakit-penyakit itu telah membuat papa saya yang semula gagah menjadi kisut. Beliau kurus sekali. Tulang-tulangnya bertonjolan, kulitnya keriput dan pucat. Papa terlihat 10 tahun lebih tua. Padahal umurnya baru 53.
Saya jadi ingat, dulu papa bugar, gagah, gemar olahraga, dan sangat aktif, baik di kantor atau di organisasi masyarakat di lingkungan rumah. Namun pola makannya memang tidak sehat. Beliau suka sekali sate kambing, jerohan, dan duren. 30 tusuk sate kambing bisa dihabiskannya dalam satu kali santap. Kalau beli duren pun, hingga bagasi mobil penuh...Untuk persedian di rumah.
Sekarang, semuanya berbalik menyerang papa. Dan entah sampai kapan beliau harus dirawat seperti ini.
Bulan depan saya akan menikah. Ingin sekali papa bisa jadi wali saya. Meskipun keluarga menawari untuk memajukan akad nikah di bulan ini, di hadapan papa di rumah sakit, saya tidak mau. Somehow, i believe, or hoping -to be exact, that he will be able to wake up again, sit on his wheel chair to watch my wedding, and be a part of it...

Oya, 28 Maret kemarin, saya berulang tahun ke-25, 1 April adalah 1st anniversary saya dan Subhan, sementara 8 April giliran Subhan beralih ke usia 25. Begitu banyak yang terjadi.

Have a nice day everyday... ^_^

2 komentar:

Myryani mengatakan...

semoga smuanya segera berlalu dengan baik ya mbak,,,

m i S S i S S m a mengatakan...

Makasih banget, Myryani... :)