It’s our typical Saturday Nite again, after the series of long weekends in December 2009 and January 2010 had gone…huhuhu…jadi agak sedih. Mengingat weekend-weekend yang lalu-lalu itu saya dan suami liburan ke Pangandaran, puas-puasin leyeh-leyeh berdua di rumah, maen sama temen-temen kami, menghadiri beberapa resepsi perkawinan, dan jalan-jalan seputaran Tasikmalaya aja. Asik banget!
Sekarang, di sini, deh, kita…di Bandung, di rumah mertua, alias rumah ortunya suami saya…untuk menjalani rutinitas “biasa” di akhir pekan: Suami kuliah, saya males-malesan…hehe…
Mengapa males-malesan? Karena kelas perkuliahan saya udah beres, bulan November lalu saya UP dan dinyatakan lulus untuk melanjutkan penulisan thesis. Alhamdulillah…
Tapi, setelah UP itu saya kembali lagi-lagi terkena virus stagnansi. Alhasil, revisian yang diminta para dosen penguji belum ada satu pun yang saya kerjakan. Rencana ikut siding thesis bulan Februari sudah pasti bye-bye ngambye aja, kayaknya.
Aneh saya ini, padahal waktu luang begitu luas membentang bagai sawah di Singaparna, kampung halaman Papah saya. Sebelum UP saya rajin banget ngajak teman, Si Budi, untuk bimbingan bareng dan berusaha untuk bisa UP bulan November lalu. Sekarang Budi rajin sekali, lho, bimbingannya? Konon jika semuanya lancar, Budi mau ikut sidang thesis bulan Februari mendatang.
Kenapa atuh, saya kok merasa sangat-sangat-sangat kehilangan arah beberapa bulan terakhir ini. Tanpa bermaksud lebay, saya benar-benar melihat hidup saya mulai tidak berarti. Ngga seperti dulu waktu saya masih lajang, tinggal sendiri di Bandung, bekerja, kuliah, bergaul dengan teman-teman. Saat ini saya jadi full-time (desperate) housewife, di desa kecil di Tasikmalaya, jarang ketemu dengan teman-teman.
Sumpah, saya ngga menyesal sudah menikah dengan suami saya. Tidak juga menyesali kepulangan/kepindahan saya ke Tasikmalaya untuk mengikuti suami, memilih untuk melepaskan pekerjaan di Bandung, terpisah dari teman-teman dekat saya, dan sebagainya. Yang saya sesali adalah ketidakmampuan saya untuk membangun kehidupan “diri” saya di Tasikmalaya, tempat kelahiran sekaligus kampung halaman yang seharusnya tidak membunuh Isma yang –menurut saya—sudah dewasa sebelumnya.
Kenapa saya ngga bisa dapet pekerjaan baru tanah kelahiran sendiri? Kenapa saya jadi malas mengerjakan thesis? Mengapa saya jadi sulit bergaul kembali dengan kebanyakan teman-teman masa kecil dan masa remaja saya? Mengapa saya merasa begitu terasing?
I don’t wanna lose myself…and I hope I’m not…
Sabtu, 16 Januari 2010
B to the O to the R to the E to the D
Label:
bandung,
bosen,
capek,
cerita-cerita,
cita-cita,
dilemma of the day,
hidup saya ke depan
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)


0 komentar:
Poskan Komentar