Begitu inget kalo hari ini adalah tanggal 23, berbagai macam memori tiba-tiba aja membanjir dan bikin saya tersenyum-senyum atau terisak sedikit saat mengenangnya satu per satu.
Sampai detik ini, saya masih amazed dengan kenyataan bahwa Subhan adalah suami saya.
Dulu sekali, waktu kami masih sama-sama kelas 1 SMA dan dia tengah berpacaran dengan teman saya, tidak pernah sekali pun hati saya menganggap dia sebagai cowok yang menarik untuk dijadikan pacar.
Entah kenapa.
Mungkin karena saat itu kepribadian dia belum seperti sekarang, belum begitu kuat dan tegas...hehehe
Selain itu, dulu dia "haram" bagi saya karena tengah berpacaran sama temen saya.
Pertemanan saya dengan dia pun biasa aja, layaknya hubungan "temennya temen".
Dia pun mengakui kalo waktu itu saya hampir invisible di mata dia...hahaha...kurang ajar, ya?
7 tahun kemudian, yaitu tahun 2007, kami bertemu lagi di Bandung.
Saat itu kami sama-sama melamar kerja di suatu perusahaan, sama-sama lolos ke tahap trainning.
Selama masa trainning yang berlangsung kira-kira 10 hari, kami masih bersikap biasa, tidak akrab meskipun sama-sama berasal dari Tasikmalaya. Pokoknya biasa saja. Saya malah lebih rajin berhaha-hihi dan jalan-jalan bareng teman-teman lain yang baru kenal.
Di sela-sela trainning dia rajin sekali sms-an dengan pacarnya saat itu, dan saya pun sering dijemput pulang oleh TTM-an saya.
Saat itu saya baru beberapa bulan lulus S1 dan sudah 5 tahun tinggal di Bandung, sementara dia sudah lulus kuliah setahun sebelumnya di Yogyakarta dan kemudian menetap di Bandung karena ayahnya dinas di Bandung.
Singkat cerita, di akhir masa trainning saya diterima bekerja di perusahaan itu, tapi saya mengundurkan diri karena ingin mengikuti tes rekrutmen wartawan harian terbesar di Jawa Barat yang dimulai ketika trainning sedang berlangsung.
Subhan tidak beruntung selama masa trainning, lalu berpisahlah kami dan tidak pernah bertukar kabar lagi, tapi kami sempat bertukar nomor telepon.
Setahun kemudian, sekitar awal bulan Maret, saya dan Subhan sempat sms-an waktu dia menanyakan rute menuju salah satu kantor salah satu bank untuk mengikuti wawancara kerja. Saat itu saya sedang bekerja di Publishing Service di daerah Jalan BKR, Bandung.
I gave him the direction, and a few days later he asked for another direction for another job interview.
Nama dia mulai sering muncul di ponsel saya.
Lalu, suatu hari, dia sms mengabarkan kalo dia sedang ada di daerah dekat kantor saya. Kami pun makan siang bareng, tanpa tujuan apa-apa. Cuma dua orang yang sama-sama sedang ngga punya teman makan siang.
Kami makan di Pizza Hut Buah Batu, ngobrol-ngobrol biasa aja, lebih banyak membahas kabar mantan pacarnya/teman saya, dan kabar teman-teman yang mengikuti trainning itu.
Waktu itu saya makan banyak banget, tanpa malu atau sungkan. Namanya juga di depan teman yang ngga terlalu "dianggap". hehehe...
Dia beberapa kali meledek selera makan saya dan mengaitkannya dengan badan saya yang ndut...
Selesai makan, saya dan Subhan berebut hendak membayar tagihan. Dia berkeras dan berkata saya boleh membayar lain waktu kalo kami makan bareng lagi.
Saya bilang, "Oke...!"
Setelah itu masih biasa aja, tapi kami mulai sering sms-an.
Beberapa hari setelah makan siang itu, dia pamit pergi ke Jogja untuk menghadiri pernikahan temannya.
Setelah pulang dari Jogja, dia membawakan saya sekota bakpia, tapi tidak memberikannya langsung, hanya dititip ke satpam.
Lalu mulailah kebiasaannya menitipkan makanan untuk saya ke satpam kantor.
Saya ngga "terima" dikirimi macam-macam tanpa punya kesempatan untuk membalas. Saya bilang begitu ke Subhan. Saya mengajaknya makan sore, sambil minta diantar pulang...hehehe...
Sejak itu kirim-kiriman sms makin rutin dan jadi kebiasaan bagi saya dan dia untuk saling mengucapkan selamat pagi dan selamat tidur.
Nonton bareng mulai dilakukan, juga jalan-jalan bareng.
Melalui pertemuan dan komunikasi yang makin intens itu, saya mulai merasa perasaan yang ngga biasa...hehehe
Saya mulai melihat dia dari sudut pandang yang sama sekali berbeda, karena dia memang berbeda dari Subhan yang saya kenal di masa SMA maupun masa trainning setahun sebelumnya.
Subhan yang saya lihat di tahun 2008 itu kuat sekaligus lembut, tegas sekaligus manis, dan teramat baik.
Dia memperlakukan saya dengan amat baik. Bicaranya sangat sopan, dan sikapnya selalu pas di setiap suasana.
Saya tahu saya suka dan jatuh cinta sama dia.
Sialnya, saya ngga bisa begitu aja berterus terang soal perasaannya saya ke dia.
Karena dia adalah mantan pacarnya temen baik saya, dan...belum tentu juga dia punya perasaan yang sama.
Tapi cuma beberapa hari aja saya menahan uneg-uneg itu. Suatu malam, saat sedang sms-an dengan Subhan, saya ngga tahan dan tiba-tiba aja bilang kalo saya suka sama dia. Dan karena menyadari betapa complicatednya situasi itu, saya bilang ngga mau ketemu dia lagi dan berhubungan melalui media apapun.
Alangkah kagetnya saya waktu dia menjawab bahwa dia juga suka sama saya, dan merasakan kebingungan yang sama. Dia tahu bagaimana eratnya pertemanan saya dengan mantan pacarnya waktu SMA.
Malam itu kami sepakat untuk mencoba saling menjauh, meski akhirnya saya jadi susah tidur karena sedih-sedih ngga jelas bercampur malu...hihihi
Tapi kesepakatan saya dan dia tampaknya terlalu lemah dibandingkan dengan perasaan yang tengah berkembang...hehehe...akhirnya saya dan Subhan mulai berkomunikasi lagi, ketemuan lagi, dan tau-tau sudah saling mengakui sebagai pacar.
Tanggal yang kami anggap sebagai tanggal "jadian" adalah "malam pengakuan dosa" itu.
Kami pun berpacaran, lumayan lancar...dibumbui pertengkaran karena ini itu, berseberangan di sini di situ, berantem-beranteman...Tapi sumpah, deh...Lebih banyak indah-indahnya. Jauuuuuuhhhh....lebih banyak.
Seumur hidup, baru Subhan yang terasa pas banget mengisi kekosongan hidup saya. Ngga tau gimana, dia sangat-sangat bisa mengerti dan membaca saya.
Dia sangat jago memanjakan saya, sekaligus memberikan teguran yang mengena bila saya berbuat salah.
Hanya dia laki-laki yang bisa membuat saya mendengarkan.
Saya merasa ditemukan, dan tentu saja, menemukan...
Bulan November 2008 dia mendapat pekerjaan di Ciamis, yang langsung dia ambil, karena itu pekerjaan pertama yang dia dapat dan dekat dengan rumahnya di Tasikmalaya.
Sejak itu dari Senin sampai Jum'at dia tinggal di Tasikmalaya, bekerja di Ciamis, lalu Jum'at malam berangkat ke Bandung untuk bertemu saya--pastinya--dan mengikuti kuliah magisternya di Unpad yang berlangsung setiap Sabtu dan Minggu.
Saya sedih banget waktu itu, karena ngga suka berjauhan dengan dia. Senin sampai Jum'at benar-benar hari yang membosankan dan menyiksa buat saya...hehehe
Tapi kesedihan itu ngga berlangsung lama, karena bulan Januari 2009, Subhan melamar saya secara resmi.
Saya pun berganti status menjadi tunangannya.
Keluarga kami mulai menetapkan hari pernikahan dan merancang segala sesuatu untuk perayaannya, dan tanggal 23 Mei 2009, impian saya jadi nyata. I've become his wife, and he is my husband, now... :)
Saya benar-benar ngga percaya dengan kemudahan dan kelancaran yang kami peroleh sejak berpacaran sampai menikah. Waktu pacaran kami hanya 1 tahun 1 bulan.
Keluarga kami bertemu untuk pertama kalinya pun saat lamaran.
It was truly amazing!
Alhamdulillah ngga ada hambatan yang berarti, ngga ada tentangan dari keluarga. Semuanya lancar. Alhamdulillah, ya, Allah...
Bagi saya, it was like magical...
Dulu saya sempat pacaran 4 tahun dengan orang lain, tapi masalah dan hambatan yang menghalangi untuk menjalin hubungan yang lebih serius ngga pernah berhenti datang.
Subhan juga sama, sebelum pacaran dengan saya, cewek-cewek yang dekat dengannya selalu saja ngga bisa mengimbangi perhatian dan komitmen yang dia beri.
Sampai hari ini, detik ini, hubungan kami masih sehangat 8 bulan lalu dan sebelumnya.
Kami masih saling kangen setiap kali berpisah untuk beberapa jam.
Saya masih menderita kalo terpisah dari dia selama satu atau dua hari.
Saya masih takjub melihat wajahnya di pagi, setiap kali kami bangun tidur.
Saya masih mengucap syukur di dalam hati setiap kali melihat senyumnya, mendengar tawanya, merasakan genggaman tangannya, menikmati pelukannya...
I still, and will always love my husband forever...
And hopefully he will always be my only couple in this world and in the after life...
Aamiin...Aamiin...Yaa Rabbal 'Alamiin...

I Love You, Dear Husband...


6 komentar:
salam kenal mbak,
kisah cinta yang manis
semoga selalu awet mesra ya
Betapa senang dan terharu saya membaca ceritamu ini...cinta yang diawali pertemanan, tanpa malu2 menghabiskan banyak makanan di kencan pertama....sungguh indah.
Selamat ya....dan yang penting harus saling...dan saling...(baca deh di blognya om trainer tentang soulmate di http://theordinarytrainer.wordpress.com/2010/01/20/soul-mate/
Pada intinya, untuk mendapatkan kebahagiaan merupakan suatu perjuangan yang harus diraih....dan harus berlomba untuk memberi kebahagiaan, bukan meminta
In this temporary world, We only live once in a lifetime.
And from all aspect all you have to do is to make the best of it.
Some other things sometimes you just have leave it as it is and be grateful with it.
I am glad you took your oNe opportunity - to make your own loVe World...
@ Monda: Salam kenal juga, Monda...Makasih do'anya, lho... ^_^
@ Ibu Enny: Alhamdulillah cerita saya yang ditulis berantakan bisa bikin Ibu terharu...hehehe
Saya setuju, Bu, untuk mendapat dan mempertahankan kebahagiaan diperlukan perjuangan. Harus pintar-pintar menciptakan suasana yang menyenangkan untuk diri dan pasangan.
@ Anonim: I know, I'm glad I took the chance, coz I guess he truly is my soulmate. I can't thank God enough for that...
Thanks for stopping by, Dear...
OMG ... libur blogging for so long, akhirnya nemu happy ending. Congratz ya miss walopun telat!
Saya baru mo mulei blogging lagi sambil liat2 comment2 lama ... Ehh kok one of them brings me back here.
Semoga my love life bisa happy ending juga heheheeh ....
Love,
Wigati
http://inginbercerita.wordpresss.com
@ Wigati: thank u, ya...
semoga kisah cinta Wigati juga sama indahnya...Amiiin...hehehe
Poskan Komentar