




Whoa.... sungguh post yang jauh tertunda. Hehehehe.
Kemarin-kemarin di laundry lagi hectic banget, dan ada sedikit masalah sama kesehatan.
Sebelum lupa, mau lanjutin cerita Jogja Trip, aaah...
Day 4...!!!!
Setelah gagal masuk ke Museum Budaya Jawa Ullen Sentalu di hari sebelumnya, maka hari ke-4 di Jogja ini bener-bener diniatin untuk pergi kesana. Pagi-pagi cuaca cerah, aku sama Subhan bangun lumayan pagi, walaupun kecapekan karena kemarennya ngerasa pegel-pegel dan kaki pada sakit. Setelah berkali-kali diguyur pake air panas dari shower, akhirnya kaki bisa dipake buat jalan-jalan lagi. hehehehe.
Seperti biasa, pagi-pagi kami selalu kelaperan. Abis mandi, dandan, langsung cabut. Subhan inget satu tempat Soto Lamongan yang suka dia datengin dulu. Letaknya ngga jauh, ternyata dari d'Paragon Cempaka Putih. Cuma tinggal masuk-masuk dikit ke area perumahannya, nyampe deh di kedai soto yang berbentuk rumah besar itu. Langsung pesen soto ayam, isinya suwiran-suwiran ayam dan sayuran, makannya pake nasi dan tempe mendoan, dilengkapi es jeruk. Enyak banget. Pantesan tempatnya rame. Pelayanannya juga baik dan cepet. Makan berdua habis sekitar 25 ribu.
Selesai makan, kami langsung cuss ke Kaliurang atas lagi, menuju Ullen Sentalu. Perjalanan kali ini terasa lebih cepet karena udah tau jalan, ga pake pusing-pusing lagi, hehehe. Sekitar jam 9.30 kami nyampe di Ullen Sentalu. Sepi banget, ngga ada kendaraan lain. Sempet kuatir sih, jangan-jangan harus nunggu banyak pengunjung untuk bisa ikut tur. Tapi ternyata setelah bayar tiket, masing-masing 25 ribu, kami nunggu sebentar lalu dijemput seorang guide cewek yang masih muda, keliatannya anak kuliahan, namanya Fafa.
Jadinya kami tour berdua aja, bertiga sama si guide, hehehe. Aturan tour ternyata cukup ketat, yaitu ngga boleh memotret isi museum, berarti kamera dikekepin aja di tas. Ngga boleh nyalain hp, dan ngga boleh memegang barang-barang yang dipajang di dalamnya. Tulisan "No Smoking", "No Taking Pictures", dan "Don't Touch!" menghiasi dinding-dindingnya.
Pertama, kami diajak ke Guwo Selo Giri, yaitu lorong gua yang cukup lapang, dengan ruangan-ruangan lapang di dalamnya. Terdapat replika gamelan Keraton Yogyakarta dan beberapa pajangan gerabah serta kuningan. Ada pula lukisan-lukisan cantik yang menggambarkan potret putri-putri cantik dari Keraton Solo dan Yogyakarta, Sultan-sultan yang pernah berkuasa, dan sebagainya. Setiap benda dan lukisan di sana memiliki kisah-kisah unik menarik sebagai latar belakang. Misalnya ada salah satu lukisan yang menceritakan tentang persaingan di antara dua orang putri dalam memperebutkan seorang pangeran.
Guwo Selo Giri ini lumayan panjang..., setelah dari ruang gamelan, kami menyusuri lorong yang dihiasi lukisan-lukisan, potret, family tree, dan beberapa tulisan atau maklumat dari tokoh-tokoh Keraton Solo dan Yogyakarta. Guide kami dengan lancar menjelaskan siapa saja yang tergambar dalam lukisan atau potret, bagaimana peranannya dalam politik, ekonomi, dan budaya di masa lalu atau sekarang. Diungkap pula beberapa intrik percintaan di antara anggota-anggota keluarga dua keraton tersebut. Baik yang berujung di pelaminan maupun tidak.
Di ujung lorong gua, kami menaiki tangga dan kembali melihat sinar matahari. Kami diajak menyusuri halaman kembali, menuju Bale Kambang, yaitu "kampung" kecil yang dibangun di atas kolam, sehingga menjadi bangunan yang mengambang. Bale Kambang terdiri atas beberapa ruangan yang memajang koleksi batik-batik kuno nan cantik, dengan motif-motif langka yang hanya bisa dipakai oleh kaum priyayi. Ada pula ruangan yang memajang pakaian pengantin khas Keraton Yogyakarta dan Keraton Solo.
Bagi saya yang gemar menikmati lukisan-lukisan potret kaum priyayi jawa ini, masih ada ruangan-ruangan yang memajangnya, juga surat-surat yang dikirimkan oleh kerabat-kerabat keraton bagi seorang putri bernama Gusti Tineke yang patah hati. Istimewa banget. Ditambah sebuah ruangan yang khusus dipersembahkan untuk seorang Putri Dambaan yang cantik dari Keraton Solo, bernama Gusti Nurul.
Tampak dari foto-foto dan lukisannya, beliau ini ayu dan cantik sekali. Konon pada masa mudanya, beliau mendapat lamaran dari orang-orang penting dan berkuasa, termasuk Presiden Soekarno. Tapi prinsip beliau yang menentang poligami membuatnya memilih calon suami dengan amat teliti. Akhirnya Gusti Nurul menikahi seorang tentara yang berdarah ningrat pula, tetapi golongannya lebih rendah dari beliau. Gusti Nurul ini ternyata neneknya penyanyi Shelomita itu lho.
Tamat mengelilingi Bale Kambang, kami diajak keluar dan kembali menyusuri taman menuju Pelataran Kaswargan. Di sana kami diajak melihat lukisan-lukisan nan megah lagi, beberapa patung Ganesha dan Dewi Sri, serta terus disuguhi cerita-cerita yang menarik dan berkelanjutan. Di akhir tour, kami dibawa ke ruangan semacam pendopo kecil yang dipenuhi furnitur antik dengan jendela-jendela kaca lebar. Ada dua gelas minuman tradisional hangat menanti kami. Konon minuman itu adalah resep awet muda putri-putri keraton. Rasanya mirip jamu beras kencur. Manis dan menghangatkan badan, terlebih saat itu hujan deras tiba-tiba turun.
Sambil menunggu hujan reda, kami duduk-duduk di pendopo tersebut. Pengen rasanya hujan cepet berhenti, karena aku dan Subhan udah gatel banget pengen foto-foto di taman museum ini yang cantik. Kalo setelah tour memang boleh foto-foto di taman. Untungnya, sekitar jam 11, hujan reda. Aku dan Subhan langsung gantian memotret sana-sini. Meskipun agak sulit karena cahaya kurang, langit masih mendung. Sejam kemudian kami naik ke bangunan model Belanda yang juga ada di kawasan museum tersebut. Namanya The Beukenhof. Beuh, interiornya cantik, secantik foto-fotonya. Berasa lagi berkunjung ke rumah seorang Noni di jaman kolonial Belanda, hehehehe.
Kami milih meja dekat jendela, karena ngga bisa duduk di balcony yang menghadap ke Taman Kaswargan, karena baru habis hujan. Balkonnya basah bo! Waiter yang melayani ngasih 2 buku menu. Cantik deh menunya, sayang lupa difoto. Aku makan Chicken Cordonbleu sama Orange Juice, Subhan pesan Sirloin Steak sama Orange Squash. Sekitar setengah jam nunggu, makanan kita dateng. Langsung dicicip dong... dan Enak deh!! Tadinya mau pesan menu-menu khas Belanda tapi lagi ngga mood. hehehehe.
Kami makan sambil santai, tapi emang cepet abisnya, setengah jam aja kelar. Habis itu bingung mau ngapain. Tapi ya udah akhirnya minta bon, bayar sekitar 170 ribuan, lalu jalan-jalan lagi di taman. Setelah itu keluar, masuk mobil, dan sempet keliling-keliling Kaliurang nan dingin. Ga lama kita udah menuruni Kaliurang kembali ke Jogja. Nyampe Jogja kita lanjutin ngapalin jalan lagi, hahahaha, terus di Jalan Colombo mampir beli singkong goreng keju. Muter-muter lagi sambil ngemil, lalu Subhan punya ide pengen pijet. Tadi di Kaliurang km5 ngeliat tempat pijit Refleksi namanya Kaki Kita. Balik lagi kita ke arah Kaliurang bawah, alhamdulillah pijetnya ngga ngantri. Berdua dipijet sebelahan, sekitar sejam. Lumayan enak sih, meskipun ngga enak banget.
Kelar pijet kita sempet pulang dulu ke Paragon. Mandi, sholat maghrib, ganti baju, abis itu langsung ngacir lagi ngejemput Mbak Icha, temen kuliahku di Bandung, untuk makan malem bareng. Rencananya kita mau makan ke Cak Koting. Setelah jemput Icha di rumah neneknya di daerah Sapen, meluncur ke Cak Koting. Gila ya, tendanya gedeeeee banget, yang makan pun banyak banget. Aku pesan ayam kremes, Subhan bebek kremes, dan Icha lele goreng. Minumnya es jeruk teruuuuuss...hihihi.
Pas makanan kita dateng, aku terpesona sama potongan ayam dan bebeknya yang gedddeee, dikasih kremesan banyak. Enak ya makan Cak Koting..... Pengen lagi deeeh. Makannya sambil nonton aksi pantomim yang menarik, kebetulan pantomimnya lagi ngamen di sana sebagai latihan untuk ikut lomba katanya.
Meski kekenyangan abis makan besar, hasrat untuk nongkrong masih aja ada. Dan masih kangen sama Icha, masa harus cepet udahan siiih.... :p
Maka, lanjut deh kami naik ke Kaliurang lagi ke Yogya Food Fezt di Km5. Dia tuh semacam foodcourt yang di-set lebih cozy dengan lampu-lampu temaram. Waitressnya canggih lho, nyatet pesenannya pake touch-screen phone. Kita bertiga ngemil es krim pake waffel sambil rumpi-rumpi. Well, yang rumpi sih aku ma Icha, Subhan asik aja ngelamun sambil ngoprek BB. :))
Sampe jam 10.30-an kita disana, agak capek juga. Pas waitress udah "ngusir" secara halus dengan ngasih tau jam last order, kami pun melipir ke pintu keluar, hahahaha. Setelah nganter Icha pulang, ga pake babibu kami cabcuss ke Paragon dan tiduuuurrr....

